Mari kita bahas satu realita pahit dalam dunia bisnis: Pelanggan sebenarnya tidak peduli dengan produk Anda. Yang Mereka pedulikan adalah setelah beli produk Anda, apa experience atau status yang saya dapatkan?
Kenapa orang rela membayar Rp 25 juta untuk sebuah iPhone 17 Pro Max? Prosesor kencang? Kamera canggih? RAM ngebut? Baterai awet?
Bukan!
Orang membeli iPhone bukan karena spesifikasi. Jujur-jujuran saja, di harga Rp 25 juta, spesifikasi hardware iPhone sangat Mid. Di atas kertas, spesifikasi iPhone 17 Pro Max itu mirip dengan Poco X8 Pro Max yang harganya cuma Rp 7 jutaan.
Secara logika teknis, mending beli Poco, kan?

Namun pembeli iPhone tidak menggunakan logika teknis. Dalam bukunya yang sangat terkenal, This is Marketing, pakar pemasaran Seth Godin mengatakan: “People do not buy goods and services. They buy relations, stories, and magic.” (Orang tidak membeli barang dan jasa. Mereka membeli hubungan, cerita, dan keajaiban). Konsumen membeli narasi yang bisa mereka banggakan.
Apa yang sebenarnya didapat dari membeli iPhone 17 Pro Max seharga motor adalah:
Validasi bahwa kita lebih sukses dibandingkan orang lain.
Terlihat kaya raya secara instan.
Rasa dihormati oleh lingkungan sekitar.
Kredibilitas. (Suka atau tidak, realitas sosial seringkali lebih mempercayai orang yang terlihat mapan, walaupun belum tentu perkataannya benar).
Kalau kita beli Poco, kita tidak akan mendapat semua experience dan status sosial itu.
Banyak alasan orang beli iPhone untuk “produktivitas” atau “kamera” seringkali hanya pembenaran rasional (alibi) untuk keputusan yang murni emosional.
Mereka membeli status. Dalam ilmu ekonomi dan pemasaran, ini disebut sebagai Veblen Good—sebuah barang yang permintaannya justru naik ketika harganya makin mahal, karena fungsinya telah bergeser murni menjadi simbol status dan eksklusivitas.

Saya kasih contoh lain. Kenapa orang mau beli Starbucks padahal hargany sangat mahal?
Kopinya luar biasa enak? Tidak juga. Rasa kopinya sebelas-dua belas dengan Point Coffeenya Indomaret.
Point Coffee harganya Rp 20.000 – Rp 30.000, sementara Starbucks bisa tembus Rp 70.000 – Rp 100.000.
Buku legendaris The Experience Economy karya B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore menjelaskan fenomena ini dengan sempurna. Bisnis modern tidak lagi bersaing di level komoditas (menjual Es Kopi), melainkan di level Merasakan Pengalaman (staging experiences).
Yang kita beli di Starbucks bukan cuma cairan kopi, melainkan kita sedang menyewa Experience:
Suasana tempat yang nyaman (Starbucks menjual konsep “Third Place”, tempat ketiga antara rumah dan kantor).
Desain coffee shop yang rapi dan elegan.
Suasana yang enak untuk kerja dan cari ide.
Tempat yang representatif dan menaikkan value saat meeting atau deal-dealan dengan calon klien.
Bisakah semua experience ini didapat di Point Coffee? Tentu tidak.
Kesimpulannya: Pelajaran penting dari sini adalah, evaluasi kembali bisnis yang Anda jalani sekarang. Apakah Anda masih terjebak mati-matian berjualan “produk bagus”, atau Anda sudah mulai merancang experience yang bikin konsumen rela bayar mahal dan beli berkali-kali?
Spesifikasi bisa ditiru kompetitor besok pagi. Tapi Experience dan Status hanya bisa didapat dari Brand Anda. Bisa nggak bisnis Anda bikin Experience yang seperti ini?